Dengan menulis, menjadi faham arti tanggungjawab
Pagi ini udara terasa dingin menusuk tulang, inginnya tarik selimut dan lanjut menghangatkan diri.
Tapi, tergambar dalam ingatan wajah-wajah siswa yang berusaha datang sekalipun hujan, ada yang diantar dengan mobil, sepeda motor, ataupun jalan kaki dengan memakai jas hujan, bukankah mereka juga kedinginan saat bangun tidur, mandi bahkan untuk sampai ke sekolah, tapi ternyata guru yang mereka ingin temui dan siap menerima bimbingan nya tidak ada, bagaimana perasaan mereka?. Hal inilah yang membuatku bersemangat dan melepaskan semua ego dan kepentingan diri sendiri. Akupun bergegas mempersiapkan diri, mengambil bahan ajar yang sudah kupersiapkan semalam di laptop.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah enam, aku keluarkan motor yang biasa di pakai setiap hari dan sudah cukup lama menemaniku bertugas, jas hujan kupakai untuk melindungi diri yang sudah tidak muda lagi, serta harta yang sangat berharga untuk guru saat ini yaitu laptop.
Sepanjang perjalanan, wajah ini di terpa air hujan yang cukup deras, kaki yang dingin bersandal, karena sepatu di sekolah sengaja ada ku simpan di ruang guru. Karena seperti itulah biasanya bila musim hujan sedang melanda, karena seorang guru sejatinya seperti seorang artis yang di tuntut rapi, bersepatu dan juga berwibawa. Walaupun bila dibandingkan dengan kesejahteraan nya yang tidak berimbang, tapi di depan siswa dan orang tua murid memiliki penghormatan yang sangat tinggi, karena memang hanya itu yang dimilikinya.
Sebelum jam belajar dimulai, akupun meminum teh hangat, sekedar menghangatkan perut karena memang sangat dingin sekali udara di sekolah saat ini.
Sambil membuka laptop melihat persiapan yang sudah di buat semalam dan mulai di print. Bahan ajar yang akan di sampaikan kepada siswa, karena saat ini semua pembelajaran tidak lagi hanya mengandalkan buku pelajaran saja, seorang guru juga harus mempersiapkan LKPD atau sering di sebut lembar kerja siswa.
Beberapa teman juga ada yang sudah lebih dulu berada di ruang TU, sedang mengeprint hampir selesai. Ibu Dewi rumah nya lebih dekat dengan sekolah jadi bisa saja dia datang lebih awal dan mengeprint, selanjutnya akupun mulai mengerjakan hal yang sama.
Setelah pekerjaan ku selesai maka akupun kembali ke ruang guru, bertemu dengan beberapa guru lainnya dan berbincang tentang cuaca hari ini, bagaimana mereka datang ke sekolah yang dengan penuh perjuangan, apalagi bu Natasya karena guru baru semua nya di persiapkan dari rumah, karena takut tidak keburu, tapi resiko nya ada saja yang basah kena tetesan air hujan yang mungkin masuk di sela jas hujannya.
Aku menuju kelas untuk menyambut siswa yang datang, melihat wajah-wajah mereka hatiku senang, sempat berfikir bagaimana dan berkata dalam hati "kalau tadi aku tidur lagi dan tidak berangkat, betapa kecewa nya mereka yang dengan semangat datang ke sekolah hari ini".
Jam menunjukkan pukul 07.15 menit. Bel sirine berbunyi dari operator sekolah.
Seperti biasa saat masuk kelas dan berdiri di depan kelas menyapa mereka bagaimana keadaannya hari ini, tentang cuaca, dan di lanjutkan dengan berdoa dipimpin salah seorang siswa, sebagai pembiasaan diri dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Memulai pembelajaran dan berdiskusi dengan mereka sangat lah menyenangkan, lalu melihat mereka bekerja kelompok mempersiapkan presentasi , karena aku yakin bila mereka saat ini sanggup berbicara untuk menyampaikan pendapat nya, bukan tidak mungkin suatu saat nanti mereka pasti akan menyampaikan ide-ide mereka kelak untuk membangun negeri tercintanya.
Saat ini aku guru mereka hanya menanamkan hal-hal yang mungkin sepuluh atau dua puluh tahun yang akan datang barulah terbentuk manusia seperti apa murid-muridku kelak.
Semoga perjuangan atau hal kecil yang kita tanamkan, karena bimbingan hari ini akan memperbaiki negeri ini.
Komentar
Posting Komentar