Hanan akhirnya berubah
Hanan adalah nama seorang murid di kelas ku, awal melihat nya aku agak terheran-heran karena menurut ku anak itu agak sedikit aneh, bila kuceritakan masalah hal kebaikan, pasti dia malah melakukan hal sebaliknya, seperti dalam salah satu pembelajaran mengenai perjuangan bangsa Indonesia meraih kemerdekaan , semua siswa takjub dengan para pejuang Indonesia karena keberanian nya. Akan tetapi anak tersebut malah menangis, sambil berkata :
" Aku sedih kenapa Belanda kalah, masa sih orang Belanda kan keren, persenjataan nya lengkap orang nya Cakep-cakep masa iya kalah sama bangsa Indonesia yang hanya pakai bambu runcing".
Huuu... Huuu.... Ihik..... Huuuu.... Melanjutkan menangis nya. Serentak teman-temannya menyoraki Hanan dan kelas pun menjadi riuh sekali.
"Hanan, itulah yang di sebut karena Rahmat Allah dan keinginan luhur, maka bangsa Indonesia dapat merdeka dari Belanda".
Tapi tetap kulihat anak itu tak terima dengan pendapat ku.
Akupun mendiskusikan sikap Hanan kepada temannya, apakah hal seperti ini boleh terjadi pada anak bangsa?. Semuanya memberikan pendapat, seperti yang kudengar saat ini.
Athar :" Hanan, kamu belum merasakannya sih kalo negara kita di jajah oleh bangsa lain maka akan hilang kebebasan untuk sekolah, bekerja, ataupun berpendapat, iya kan bu ". Jelas Athar sambil meminta dukungan dariku kalau pendapat nya benar.
Akupun jadi tersenyum juga mempertajam pendapat dari Athar, bahwa hal tersebut benar.
Oktavina juga tak kalah sengit nya dengan Athar, bahkan sampai mengeluarkan kata-kata pedasnya, " Kalau kamu tidak suka dengan Indonesia kenapa kamu sekarang masih berada di Indonesia, sana kamu ke Belanda aja", sambil mempleset kan dengan singkatan kalau Belanda hanya lah Belakang dapur.
Anak-anak yang lainpun mendukung pendapat Athar dan Oktavina,begitulah suasana kelas ku bila pelajaran sedang berlangsung.
Anak-anak biasa untuk mengemukakan pendapatnya bila ada perbedaan.
Hanan hanya terdiam tanpa menyangkal pendapat temannya tersebut, biasanya dia akan berani lantang kalau pendapat nya yang selalu bertolak belakang, bahkan sampai mengeluarkan kata-kata kasar. Hal ini sering membuat telinga ku panas.
sampai akhirnya saat jam istirahat, setelah ku lihat dia selesai makan bekel makannya, kuajak lah Hanan berbicara. Hanya aku dan dia teman yang lain tidak boleh mendekat.
"Hanan, ibu mau tanya sama kamu, apa sih sebenarnya yang diinginkan Hanan? ".tanyaku
" Hanan tidak mau apa-apa bu". Jawabannya
"Tapi setiap pelajaran atau keseharian kamu selalu saja bertolak belakang dengan yang lain, atau kamu senang sekali melakukan hal-hal yang tidak biasa dilakukan teman-temanmu".
Anak tersebut hanya diam, tapi kalau kulihat dari mimik muka dan ada gerakan-gerakan kepalanya, sepertinya dia sedang menggerutu dalam hati.
"Kamu tidak suka dengan ibu? Atau adakah temanmu yang membuatmu gelisah atau tidak kamu sukai? " Tanya ku lagi.
Anak itupun masih diam, tapi seketika tangisnya pecah hingga membuat kaget seisi kelas ini. Teman-teman nya yang sedang memakan bekal atau sekedar camilanpun langsung memperhatikan kami, terutama Hanan.
"Hanan kenapa bu", tanya Kenzi
" Tidak apa-apa. " Jawabku singkat.
Hanan ku peluk, supaya tenang. Pada saat itu dia pun sambil menangis tapi berbicara meluapkan perasaan nya mungkin, awalnya kurang jelas karena sambil bergumam, tapi aku berusaha mendengar kan ocehannya dalam tangis, akhirnya ku pahami kalau Hanan kangen ibunya yang sudah tiada, dia bosan tinggal dengan ayahnya yang selalu sibuk dengan urusannya sendiri. Padahal yang aku tahu ayahnya selalu mengantarkan dia ke sekolah, membuatkan bekal nasi goreng atau lauk sederhana.
" Yaudah, Hanan harus bersyukur masih ada ayah yang selalu mengurus kamu".jawabku sekenanya.
"Iya, bu. Tapi aku ingin semua orang tau perasaan aku bu".
Aku nasihati, bagaimana mungkin orang akan tau kita kalau kita tidak mau tau perasaan orang lain. Tentang rasa hormat, bersyukur dan saling support sesama teman di kelas. Akhirnya dia bisa lebih tenang, sudah tidak menangis lagi, aku buat kesepakatan padanya, kalau Hanan bisa memperbaiki diri nya pasti kita semua yang ada di kelas akan mensupportnya juga.
Dia setuju dengan kesepakatan itu, lalu ku suruh dia minum dan cuci muka dulu ke toilet.
Pada jam pelajaran selanjutnya setelah istirahat adalah pelajaran PAI maka yang masuk adalah guru agama.akupun bergegas ke kantor dan ku pesan kepada anak-anak bahwa kalian harus menghormati semua guru di sekolah ini, hal ini selalu kupastikan sebelum meninggalkan kelas setiap hari, Hanan ku pandangi dan ku ajak toss, diapun melakukan nya. Akupun permisi keluar kelas berganti dengan guru agama yang masuk.
Di ruang guru, aku bertanya dengan guru sebelum nya, tentang Hanan. Akhirnya ku dapatkan informasi bahwa ibu nya meninggal karena di bunuh begal, saat dia berusia 6 tahun, saat memasuki SD dan selama ini yang mengurusnya adalah ayahnya.
aku berkesimpulan kalau Hanan itu menyimpan rasa kecewa pada lingkungan, menganggap semua orang jahat dan tidak ada keadilan, maka dia selalu menentang dengan keadaan normal, karena baginya keadaan normal hanya milik orang lain bukan untuk dirinya. Makanya dalam keseharian dia selalu bertolak belakang dari temannya, atau senang melakukan hal yang kurang baik karena menuntut keadilan. Aku berfikir keras bagaimana meyakinkan anak ini supaya bisa lebih baik ,setidaknya bisa mengikuti alur yang normal.
Hanan setiap hari kuajak bicara, secara pribadi saat jam istirahat sengaja aku tidak pergi ke ruang guru, akaupun membawa bekal dan makan bersama dengan anak-anak di kelas terutama dekat Hanan, lalu aku melihat bekal apa yang di bawanya. Sambil ngobrol dan berbicara dengan teman lainnya, hari demi hari sampai bulan ke 4 . sejak peristiwa itu di kelas.
Aku mulai merasakan ada perubahan dari Hanan, dia lebih sopan, bicara nya terarah. Intinya Hanan sudah berubah, hal sekecil apapun perubahan itu sangat berarti. Kelas pun makin kondusif karena biang kerok nya sudah jinak.
Betapa peristiwa apapun yang terjadi pada perjalanan anak didik kita maka akan mempengaruhi perangai nya.
Saat pembagian raport aku informasi kan kepada ayahnya tentang Hanan, dan ayahnya pun memberikan informasi tentang kebenaran peristiwa yang menimpa anaknya. Ayahnya juga berjanji akan lebih dekat dan memperhatikan Hanan. Demi masa depan Hanan.
Komentar
Posting Komentar